?

Log in

No account? Create an account
 
 
27 February 2008 @ 01:57 pm
My Fair Love  

My Fair Love

Author : Mizuno
Pairing : JunDa, RyoDa  *this time not Akame XDXD*
Rating  : PG15 for angst theme…
Disclaimer : I doubt Jhonny-san will waste his time writing fanfic like this LOLZ~
A/N : My first fic without Akame… Somehow felt kinda weird XDXDXD~ And yeah, it’s angst. I made the characters here suffer and cry a lot. I tried to add some fluff, but maybe they didn’t strong enough to ease the angst… Please don’t kill me~~!!! >0<

Extra Note : The words in italics mean the past time’s scenes and the words in bold  refer to the naration. The words in red refer to the words from the diary. Sorry for make this complicated to you guys… n(_ _)n

 

 

…semuanya tentang kita…

 

Matahari perlahan menyingsing dari ufuk timur, menggantikan langit malam yang gelap dengan langit pagi yang cerah. Semburat biru pucat perlahan berkedip di horizon, sinar matahari yang keemasan itu perlahan menyentuh bayang – bayang, menghapus semua warna kusam malam hari dan menggantikannya dengan warna cerah yang berwarna – warni.

 

Seluruh kota perlahan bangun, menggeliat, dan menjalankan aktivitas yang sama seperti pagi – pagi sebelumnya. Suara hiruk pikuk mulai memenuhi udara, dengan aliran energi dari tawa, desah nafas dan sapaan ceria mereka.

 

Seekor jaybird mungil hinggap di puncak atap peron yang bergelombang, berciap ribut seraya menggerak – gerakkan kepalanya. Sepasang manik hitam mungilnya lekat mengamati sosok yang berdiri di peron, tampak menerawang dengan mata kosong.

 

Tatsuya Ueda mengangkat wajahnya menatap sepotong langit berwarna biru kelabu di atas sana, masih tampak pucat di pagi itu. Awan gelap mulai bergulung di sisi – sisinya, dengan angin dingin yang lembab. Sesekali angin hangat bertiup, tapi dinginnya pagi hari yang diwarnai titik – titik embun itu masih membekas kuat. Stasiun kereta itu sepi, hanya ada satu dua orang penumpang yang duduk di deretan tempat duduk menanti kereta mereka tiba.

 

Pemuda bertubuh ramping itu hanya mengenakan sebuah kaus putih yang didobel dengan parka hitam, celana jeans gelap dan sepatu kulit yang sedikit tergores dekat bagian solnya. Barang bawaannya tidak banyak, hanya sebuah ransel hitam kecil tergantung di bahunya. Angin meniup rambutnya yang kecoklatan, memberikan sensasi membekukan, namun Tatsuya hanya menutup matanya dan membiarkan nafasnya berubah menjadi uap putih tipis di udara.

 

Ketika keretanya tiba, pemuda itu melangkahkan kakinya dan mencari tempat duduknya dalam diam. Dia terlihat sangat tenang, namun banyak hal yang berkecamuk dalam ingatannya.

 

Terlalu banyak kenangan.

Terlalu banyak memori yang tidak dapat dilupakan.

Terlalu banyak air mata dan sakit hati…

 

“ Tatchan…!! “ Dia bisa mengingat suara itu memanggilnya ceria, melambaikan tangannya, bertingkah seperti orang bodoh menunjuk dua tempat duduk kosong dekat jendela yang merupakan kursi mereka.

“ Stop it “

“ Mou… Tapi ini benar – benar tempat terbaik di gerbong ! Pas di tengah, dekat jendela “ Sosok itu melambai lagi, membuatnya menghela nafas panjang. “ Taguchi, kupikir tidak ada bedanya antara kursi ini dengan kursi – kursi yang lain. Diamlah “

Sosok itu pura – pura cemberut, “ Ini berbeda. Ini tempat paling baik untuk duduk “

 

Dan kini dia berdiri terpekur dekat kursi itu, kursi yang sama yang mereka duduki saat itu. Dia melirik karcis di tangannya dan perlahan meletakkan barangnya di bagasi atas tanpa suara. Dia duduk, memandangi pemandangan yang terhampar di balik jendela kereta. Sebuah buku bersampul merah tua, lusuh dan bergelombang, tergeletak dalam pangkuannya. Tatsuya meraih buku itu dan mengelus sampulnya selintas. Kondisi buku itu benar – benar menyedihkan, dengan banyaknya halaman yang rusak, hilang, kata – kata yang tidak terbaca.

 

“ Taguchi… “

 

Kereta perlahan bergerak, melaju pasti dengan irama yang dikenalnya dengan baik. Tatsuya membuka buku itu perlahan dan mulai membaca lembaran pertamanya. Tidak ada tanggal yang tertera di halaman itu, maupun di halaman – halaman berikutnya. Tapi dia bisa mengingat dengan baik kapan peristiwa yang tercatat dalam diari itu terjadi.

 

Hari ini dia menangis lagi…

Setiap kali aku melihat air matanya mengalir jatuh, aku selalu merasa bahwa aku ingin turut menangis bersamanya. Dia terlalu rapuh untuk menangis. Dia berhak untuk bahagia, tersenyum tanpa perlu merasakan kepedihan…

Aku ingin melihat dia selalu tersenyum… walaupun bukan aku yang membuat senyum itu di wajahnya. Karena aku tahu… ada orang lain dalam hatinya

 

Tetesan air mata bergulir jatuh di pipinya, meluncur dari dagunya, menodai halaman yang dibacanya dengan titik air. Tatsuya berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Rasa sakit yang tajam berulang kali menusuk hatinya, membuatnya merasa begitu rendah dan kotor. Dia ingat dengan jelas akan hari itu…

 

“ Tatchan…? “

Tatsuya mengangkat wajahnya, berusaha menghapus air matanya. Taguchi berdiri di hadapannya, pandangan mata mereka bertemu nanar.

“ Ryo lagi…? “ Taguchi menebak. Perlahan dia duduk di sebelah Tatchan, “ Lagi – lagi dia menyakitimu… Kenapa dia tidak memikirkan perasaanmu ? “

Tatsuya hanya menggeleng – gelengkan kepalanya dengan sikap defensif, “ Aku tahu… Tapi aku menyukainya, Taguchi… Aku begitu menyukainya sampai – sampai aku menutup mata akan semua hal yang dilakukannya di belakangku “

 

Cinta… semua karena cinta.

Tiga orang, tiga hati, tiga cinta.

Ketika orang pertama mencintai orang kedua… ketika orang kedua memiliki orang lain dalam hatinya… dan ketika orang ketiga yang dicintai orang kedua tidak menghargai cinta yang mereka bina…

Semuanya seperti permainan… roman picisan yang menghancurkan hati.

 

Hari ini dia kembali menangis …

Aku benar – benar ingin menghajar Ryo karenanya. Dia tidak berhak memperlakukan Tatchan seperti itu. Tatchan selalu berusaha tegar, tapi aku tahu sebenarnya dia rapuh. Dia butuh pegangan… jika tidak, dia akan jatuh dan hancur tanpa bisa diperbaiki lagi…

 

Taguchi merengkuh Tatsuya yang terisak – isak, matanya yang basah tampak sembab dan merah. Bahu mungil itu bergetar lemah, membuat Taguchi terdiam seribu bahasa, hanya terus memeluk dan menenangkan Tatsuya dengan caranya sendiri.

 

“ Ryo… dia berselingkuh di belakangku… “

“ … “

“ Aku tidak bisa mengerti kenapa dia melakukan hal itu. Ini bukan yang pertama kalinya, Taguchi “

“ … “

“ Dia bilang bahwa dia mencintaiku. Tapi kenapa dia terus menyakiti hatiku ? “

“ … “

“ Aku terus bertanya – tanya kenapa. Aku selalu pura – pura tidak tahu. Aku menutup mataku dan terus memaafkannya. Tapi kini, setelah sekian lama… aku ragu apakah dia masih mencintaiku “

“ … “

 

Ketika cinta terbelah dan terbagi…

Ketika cinta tidak lagi satu…

Semua terasa seperti jeratan laba – laba yang menjebak tanpa jalan keluar. Karena cinta itu buta, tanpa logika. Cinta…berubah biru ketika kau sedih… dan hitam ketika hatimu luka dengan remuk redam.

 

Tatsuya berdiri di ambang pintu dengan mata kosong. Wajahnya pucat, nyaris tanpa warna. Tapi kali ini, tidak ada air mata yang keluar. Air matanya seolah kering setelah sekian lama. Jiwanya terasa kosong, dan dia tahu bahwa dia harus menyudahi semuanya.

 

Di kamar tidur mereka, di tempat tidur mereka, Ryo memeluk gadis itu dengan cara yang tidak pernah lagi dilakukannya pada Tatsuya. Gelak tawa dan desah mereka menyilet hati Tatsuya, tapi tidak ada lagi darah yang keluar. Hatinya sudah mati, hancur lebam sejak lama…

 

“ Ryo “ Panggilnya. Dan kedua orang yang baru menyadari kehadirannya itu berubah pucat. Ryo terbata, “ Tatchan… “

Tatsuya hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan, “ Semua sudah berakhir, Ryo “

“ Eh ? “

“ Hubungan kita sudah berakhir… “

 

…tidak ada lagi yang perlu didengar.

Hatinya memutuskan bahwa semua sudah berakhir. Dia merobek semua halaman kelam dalam hidupnya dan bertekad untuk memulai lagi dengan lembaran baru, yang putih bersih seperti salju.

 

“ Kau baik – baik saja…? “

Tatsuya mengangguk seraya melepaskan sepatunya dan merasakan pasir dingin di bawah telapak kakinya. Dia berjalan menyusuri garis pantai itu tanpa arah, berputar – putar menghirup udara berbau garam yang lembab. Tidak ada orang lain di pantai itu, saat itu masih musim dingin. Selapis es dan salju mewarnai sisi – sisi pantai itu dengan warna putih pias samar – samar.

 

Di belakangnya,Taguchi mengikuti Tatsuya yang terus berjalan dengan tempo tidak tetap. Tatsuya berpaling ke arah laut lepas, membiarkan ombak yang dingin seperti es itu menyentuh kakinya. Angin laut berhembus ke arahnya, mengibarkan mantel yang dikenakannya.

 

“ Ne, Taguchi ? “

“ Hai ? “

“ I’m such an idiot… fallen for that jerk “

“ It’s alright. It’s over “

 

Senyum kembali di wajahnya.

Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi sakit hati dan pedih dalam bola matanya. Dia mulai bisa tertawa kembali. Dia bahagia. Dan aku bahagia karenanya…

 

Tatsuya tenggelam dalam rasa bersalah. Taguchi selalu berada di sisinya saat dia terpuruk, selalu mengibur dan menghapus air matanya. Memanjakannya, memperlakukannya seperti barang berharga yang tidak ternilai harganya. Mungkin Taguchi tahu luka hati tidak sembuh secepat itu. Dia selalu menjaga Tatsuya dengan lembut, dengan perhatian dan kasih sayang.

 

Taguchi tidak pernah memaksanya. Dia tidak mengatakan apa pun mengenai perasaannya terhadap Tatsuya. Tapi di balik semua itu, Tatsuya sadar… Taguchi mencintainya. Pemuda bertubuh tinggi itu telah mencintainya dengan sepenuh hati sejak dulu, begitu lama sampai dia tidak bisa mengingat lagi kapan cinta itu ada.

 

…aku mencintainya.

 

“ Hatsyiii…! “

Taguchi berhenti melangkah ketika dia mendengar suara bersin itu. Dia melepaskan syalnya dan mengalungkannya di leher Tatsuya, “ Kau selalu lupa membawa syal “

Tatsuya mengangguk, “ Terima kasih… “

Taguchi hanya tersenyum, meraih telapak tangan Tatsuya dan menggengamnya dengan kehangatan yang mencairkan hati. Tatsuya menatap sosok Taguchi,“ Ne, Taguchi… “

“ Hai ? “

“ Sejak kapan kau mulai mencintaiku ? “

 

…aku tidak tahu sejak kapan aku mencintainya. Tanpa sadar aku telah begitu mencintainya, begitu besar sampai aku rela melakukan apa pun demi dia. Mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama, tanpa kusadari.

 

“ …jujur Tatchan, aku tidak tahu sejak kapan aku mencintaimu “

“ Tapi kenapa ? “

 

…kurasa cinta tidak butuh alasan yang konkrit. Mungkin karena dia selalu terlihat rapuh dan mudah hancur. Mungkin karena dia terus berusaha tegar. Mungkin karena dia sangat menghargai cinta yang dibinanya walau dengan penuh luka. Mungkin…aku tidak butuh alasan untuk mencintainya. Aku mencintainya…karena dia adalah dia. Dan aku jatuh cinta pada dirinya.

 

“ Aku mencintaimu… karena kau adalah dirimu. Dan aku tidak perlu alasan lain “

 

Cinta yang baru tumbuh… mengakar lepas seperti jalinan benang yang dirajut.

Tapi ketika akar yang baru itu belum cukup kuat, badai datang dan menghempaskan semuanya. Menghancurkan tanpa sisa. Dan badai itu tercipta…karena kesalahannya sendiri.

 

TING TONG

Tatsuya bergegas membuka pintu dengan senyum cerianya, “ Taguchi…! Kau terlambat… “

Kalimatnya tidak selesai. Bukan Taguchi yang berdiri di hadapannya. Tatsuya berdiri kaku tanpa tahu harus berkata apa.

 

Di depan pintunya, Ryo berdiri dengan gestur terpuruk. Begitu berbeda dengan Ryo yang diingatnya. Ryo…tampak hancur. Dengan mata yang lesu, pipi cekung dan wajah pucat. “ Boleh…aku masuk ? “

Tatsuya mengangguk pelan. Ryo masuk, matanya menatap Tatsuya memohon maaf.

 

“ Tatchan… kumohon maafkan aku “

“ … “

“ Aku begitu bodoh… Aku menghianatimu untuk hal absurd yang tidak penting sama sekali. Aku menyesal, Tatchan… “

“ … “

“ Aku mencintaimu, Tatchan. Hanya kau yang paling kucintai… “

 

Tatsuya tidak ingat lagi apa kata – kata Ryo selanjutnya. Tapi dia ingat bahwa dirinya terlena. Dia ingat hatinya goyah. Hatinya berteriak karena teringat akan masa – masa indah mereka dulu. Masa ketika Ryo masih memperlakukan Tatsuya sebagai nomor satu di atas segala – galanya.

 

Mungkin bukan cinta yang dirasakannya saat itu.

Tidak…bukan mungkin. Itu memang bukan cinta.

Cintanya pada Ryo telah lama mati. Padam sejak dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Tapi egonya meraung senang dan mengambil alih. Membutakan hatinya untuk sesaat dan membuatnya lupa akan kenyataan yang paling penting. …dan hal itu, adalah kesalahannya yang paling fatal…

 

Ketika pintu dibuka, Tatsuya merasakan sejarah yang menimpa dirinya dulu berulang. Hanya saja kali ini Taguchi yang berada di posisinya saat itu. Wajah pemuda itu pias seperti kertas, dengan ekspresi terluka yang nyata. Dan Taguchi juga tidak menangis, hanya menatap mereka dengan pandangan hampa saat dia bergumam lirih, “ Tatchan… “

 

Tatsuya berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang, merasa begitu bersalah dengan kehadiran Ryo yang berada di sisinya. Hati kecilnya tahu dia harus mengejar Taguchi dan mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi tubuhnya kaku. Dia terduduk dan menangis, tanpa tahu harus berbuat apa.

 

Aku mengira bahwa dia mencintaiku.

Tapi mungkin tidak. Itu hanya ilusiku saja.

Orang yang selalu dicintainya adalah Ryo… dan dia menjadi milikku hanya karena aku selalu ada untuknya. Dia membutuhkan seseorang untuk menyembuhkan luka hatinya.

Aku tidak menyadari, bahwa luka hatinya membutuhkan orang lain untuk sembuh. Orang yang sangat dicintainya, yang benar – benar dicintainya. Ryo. Bukan aku…

 

Dia menghindari Taguchi. Terus menerus. Mungkin pemuda itu juga melakukan hal yang sama. Mungkin Taguchi juga muak menghadapi Tatsuya yang begitu tega mengkhianatinya setelah semua hal yang dilakukannya selama ini.

 

Aku ingin dia bahagia.

Walau orang yang berada di sisinya bukanlah aku.

Aku rela mengalah, asal dia bahagia.

 

Mungkin undangan beasiswa itu merupakan kesempatan yang bagus. Aku akan pergi dari hadapannya. Dengan begitu, mereka bisa bersama tanpa perlu mengkuatirkan aku. Aku baik – baik saja. Hatiku memang sakit, tapi aku akan lebih bahagia…bila dia bahagia. Karena cinta adalah perasaan yang tidak bisa dipaksakan…

 

Ketika malam itu Taguchi menelepon, Tatsuya merasa hatinya hancur ribuan keping. Jiwanya menjerit, tapi dia tidak mengatakan apa pun kecuali “ Selamat jalan “

Dia berteriak “ Jangan pergi !!! “ tapi kata – kata itu hanya bergaung dalam hatinya. Lidahnya tercekat. Ketika telepon diputus, dia masih memegangi telepon dengan air mata yang membanjir.

“ Jangan pergi… “ bisiknya lemah, “ Jangan pergi… Aku mencintaimu… “

 

…ketika dia sadar… semuanya telah terlambat.

 

“ Maaf, Ryo… Aku mencintai Taguchi “

“ Tatchan… “

“ Cinta kita sudah lama berakhir. Yang kucintai sekarang adalah Taguchi. Dan aku harus mengatakan hal ini kepadanya “

 

Kesempatan yang selalu ditundanya hilang tanpa jejak. Tanpa bekas…hanya meninggalkan sederet penyesalan dan ribuan tetes air mata.

 

Pesawat yang ditumpangi Taguchi mengalami kecelakaan. Pesawat itu hilang di tengah lautan lepas. Memerlukan waktu berbulan – bulan untuk berhasil menemukannya. Dengan sederet daftar nama korban yang meninggal dan dinyatakan hilang.

 

Junnosuke Taguchi termasuk salah satu di antaranya. Tubuhnya tidak pernah ditemukan, sama seperti nama – nama lain di daftar itu.

 

Selama setahun penuh, Tatsuya hidup dalam depresi. Hatinya hancur, remuk redam. Dia belum sempat menyatakan isi hatinya. Dan semuanya terlambat… karena dia begitu bodoh menyia – nyiakan semua kesempatannya selama ini.

 

“ Tatsuya… kurasa kau menginginkan ini. Hanya ini barang miliknya yang berhasil mereka temukan “

Tatsuya menerima buku bersampul merah itu dengan kondisi seolah tidak berjiwa. Dia bahkan tidak ingat siapa yang memberikannya buku itu. Tapi dia menerimanya, dan malam itu dia menangis… Buku itu adalah diary Taguchi, sebuah diari yang menyatakan semua isi hatinya.

 

Cinta bukan sebuah permainan. Kau tidak bisa mengulang apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan… Cinta bukan mesin yang memiliki tombol OFF ketika kau tidak menginginkannya lagi. Cinta tidak bisa diRESET ulang semudah itu.

 

Cinta…merupakan emosi yang kuat menggeletar dalam dirimu. Akarnya menancap erat pada jiwamu. Cinta itu sulit hilang. Dia hanya bisa perlahan kau kubur dalam lubuk hatimu. Tapi ketika kau teringat, semua luka dan pedih perih itu kembali lagi…

 

Tapi cinta bukan berarti harus memiliki.

Cinta… lebih daripada itu. Cinta sejati merelakan kebahagiaannya sendiri, selama orang yang dicintainya bahagia.

 

Tatsuya… aku mencintaimu.

Aku ingin kau bahagia.

Terima kasih, untuk semua senyum yang kau berikan kepadaku.

Terima kasih, untuk semua cinta yang sempat kau berikan kepadaku.

Terima kasih, karena membuatku mengenal arti kata cinta yang sebenarnya.

 

Aku ingin senyum selalu berada di bibirmu.

Aku tidak ingin ada air mata yang menodainya.

AKU INGIN KAU BAHAGIA…

Bahkan sekalipun bukan aku yang berada di sisimu untuk membuatmu bahagia dan tersenyum.

 

Dan ketika kau telah melupakan diriku sekalipun…

Aku akan terus mendoakan kebahagiaanmu.

AKU MENCINTAIMU…

Aku mencintaimu lebih dari apa pun, melebihi apa yang kau tahu. Mungkin aku sendiri tidak tahu berapa besar cintaku padamu…

 

Tatsuya melangkahkan kakinya di pantai itu. Pantai yang sama dengan pantai yang mereka datangi. Syal Taguchi melingkari lehernya, kakinya yang telanjang dibasuh pasir dingin dan ombak lautan. Tanpa banyak bicara dia memandangi laut.

 

Nafasnya berubah menjadi uap tipis di udara yang dingin. Matahari perlahan surut, meninggalkan semburat merah tua di ujung horison. Bintang berkilauan di atas sana, berpendar di langit lembayung yang terlihat seperti cadar.

 

“ Taguchi… aku mencintaimu… “

 

Air mata mengalir turun dari pelupuk matanya. Dia mendekap buku merah itu di dadanya, tergugu dan terisak dengan perasaan sesak yang kuat mencekik.

 

“ …aku mencintaimu… “

 

Beribu kata ‘seandainya’ melukai hatinya teramat dalam. Seandainya dia sempat mengatakan isi hatinya. Seandainya dia lebih cepat menyadari perasaannya. Seandainya dia tidak mengkhianati Taguchi… Seandainya…seaindainya dia bisa memperoleh kesempatan kedua…

 

“ Taguchi… “

 

—owari—

 

I’ll make a sekuel from this fic…! It’s too sad if it ended this way ! (TT^TT)

 

 
 
Current Location: in jinjin's embrace
Current Mood: sadsad
Current Music: Oceano--Josh Groban
 
 
 
jindaluverjindaluver on February 19th, 2009 04:25 am (UTC)
hi!!!em,sorry for this late comment.
somehow i came through dis fic and after i've read it,i feel like commenting..so i hope u don't mind.
anyway,this is my 1st time reading indonesian fic about ryoda and this fic is so unexpectedly good!i cried reading it till the end..luv it..
♥ ミズノ ヒヵル ♥: eating jinmizuno_hikaru on February 20th, 2009 07:54 am (UTC)
it's okay =)
and i didn't post the fic at any comm too XDXD
glad u enjoyed the fic ^^
thx 4 reading and commenting ne~ of course i didn't mind *wink*
diisa_pinkydiisa_pinky on February 27th, 2010 10:51 am (UTC)
huaaa!!!! ToT
mizu bikin gue nangiiiis!!! MAMA!!!!
hiks.. hiks.. mana sekuelnya??