?

Log in

No account? Create an account
 
 
18 March 2008 @ 08:37 pm
Charades +part 7+  

Charades* +part 7+

Fanfic by Mizuno

Rating about NC-17 for incest part and smax between them ^^;

 (*cha·rades [noun] guessing game: a game in which somebody provides a visual or acted clue for a word or phrase, often the title of a book, play, or movie, for others to guess)

CHAPTER SEVEN~ALL I WANT IS YOU

 

 

…Aku mencintaimu…

Hanya dua kata. Tapi cukup untuk membuat hatinya penuh dengan perasaan yang tidak dikenalnya. Dua kata itu mengangkat semua beban di bahunya, menghapus semua perasaan ditolak dan tidak dibutuhkan, membuatnya merasa bahwa dia berarti…

Ayahnya selalu menatapnya dengan tatapan kecewa, merendahkan, membuat hatinya melengos sedih tanpa daya. Dan tidak ada seorang pun untuknya. Dia sendirian, terjebak dalam rutinitas menyakitkan yang sangat dibencinya setiap hari. Dan pandangan mata ayahnya masih terus menghantuinya tanpa akhir.

Tapi kini, hanya dengan dua kata itu, dunia terasa lebih berwarna. Dunianya yang gelap dan hitam putih tergantikan dengan warna – warni yang silih berganti.

 

Air matanya bergulir jatuh, mengalir di pipinya, menetes dari dagunya. Pemuda di hadapannya menatapnya lurus, dengan mata yang memancarkan keseriusan. Jin memeluknya lembut, “ Kazu… Aku mencintaimu… “

“ Tapi… kenapa ? “

“ Apakah butuh alasan untuk jatuh cinta pada seseorang ? Aku bahkan tidak tahu sejak kapan dan mengapa aku bisa jatuh cinta padamu. Tanpa kusadari, aku sudah terseret terlalu jauh dan tidak bisa kembali, kecuali menghadapi kenyataan bahwa aku mencintaimu… “

Kame balas memeluk pemuda yang lebih tua itu dan menempelkan pipinya di leher Jin. “ Ne Jin… Aku pun mencintaimu… “

 

Kedua bola mata mereka bertautan. Kame merasa dirinya tersedot ke dalam manik kecoklatan yang dalam dan teduh itu, perlahan memejamkan matanya ketika wajah mereka semakin dekat. Jemari Jin menyentuh bibir bagian bawahnya dengan lembut, mengusapnya sekilas sebelum menciumnya dengan ciuman yang sangat manis. Ciuman itu terasa sangat murni, tanpa lidah, tanpa gigi, tanpa permainan apa pun. Hanya bibir mereka yang bertemu, berpadu dalam harmoni yang membakar. Jin terus membisikkan namanya ketika bibir mereka berpisah sejenak untuk menarik nafas. Jin menangkup kedua pipi Kame dan membiarkan pemuda bertubuh ramping itu mengalungkan kedua lengannya di lehernya.

 

“ Kau demam “

Temperatur panas itu menghiasi ciuman mereka, dengan kehangatan yang terasa membakar. Jin mengusap wajah Kame yang memerah karena demam, dengan mata berkabut. Kame mencoba menggeleng, tetapi kepalanya mulai berkunang – kunang, membuat pandangannya menjadi gelap.

 

Jin memeluk Kame ketika tubuh pemuda itu oleng sesaat, “ Kau harus beristirahat “

Dia membopong tubuh ringan itu dengan bridal-style dan membaringkannya di tempat tidur, menyelimutinya dengan selimut tebal dan tersenyum.

 

“ Kenapa kau tersenyum ? “

“ Tadi pagi aku melakukan hal ini padamu “ Jin meraba dahi Kame yang masih panas, “ Aku akan mengecek kotak obatku “

 

Dia melangkah ke dapur, mencari kotak obatnya. Setengah menerawang, dia menunjuk – nunjuk udara kosong dengan jarinya, “ Di mana…? “

Jin nyaris tidak tahu menahu mengenai kotak itu, dia jarang sakit. Bahkan jika dia sakit sekalipun, selalu ada Mizuno yang mengurusnya. Adik sepupunya itu bahkan lebih mengenal apartemennya daripada dirinya sendiri. Kenyataan itu membuatnya tersenyum pahit. “ Mizuno lagi… Selalu Mizuno… Aku baru sadar selama ini aku terlalu banyak bergantung padanya… “

Dia berjuang mencari kotak obatnya, tapi tetap tidak bisa menemukannya. Akhirnya dia menyerah dan meraih HPnya.

“ Moshi – moshi… Mizuno ? “

“ Jin…? Ada apa ? “

“ Ehm, apa kau ingat di mana kotak obatku ? “

“ Kau terluka ? “ Suara Mizuno terdengar kuatir. Jin merasakan perasaan bersalah tumbuh merayapi hatinya, “ Ehm, tidak. Aku baik – baik saja… Hanya saja Kazuya demam dan… “

“ Oh… “

“ Aku tidak bisa menemukan kotak obatku “

Ada di lemari dekat lemari es. Laci yang pertama “

Jin membuka laci yang dimaksud dan menemukan kotak obatnya. “ Ah, ini dia “

“ Tapi, Jin… “

“ Ya ? “

“ Kurasa tidak ada obat demam di sana. Habis ketika kau sakit waktu itu. Kurasa hanya ada peralatan P3K dan sedikit kasa di sana. Tolong cek apakah masih ada alkohol 75%, band aid, obat sakit perut, obat sakit kepala dan obat merah ? “

Jin membuka kotaknya, dan isi kotak itu benar – benar sesuai dengan yang dikatakan oleh Mizuno. “ Wow “ Jin tidak tahu harus berkata apa, “ Kau lebih hafal isinya daripada aku “

“ Aku akan membelikan obat. Tunggu sebentar “

“ Eh ? Tapi ini sudah malam… “

“ Jin ? Rumah kita hanya beda dua blok. Dan minimarket sangat dekat “

“ Ehm… “

“ Siapkan saja baskom, isi dengan air dingin. Basahi handuk kecil yang lembut dengan air itu dan coba mengompresnya. Kau tahu di mana letak baskom dan handuknya ? “

“ Errr… tidak ? “

“ Cari baskomnya di laci bawah kabinet dapur. Pakai saja yang merah, itu tidak terlalu besar. Handuknya ada di lemari pakaianmu, dekat kau menaruh syal dan sapu tangan “

“ Hai “

“ Aku akan segera sampai di sana

“ Wakarimasta… “

 

Jin membongkar laci dapurnya, menemukan baskom kecil berwarna merah itu dan mengisinya dengan air dingin. Handuk kecil yang dimaksudkan Mizuno terletak tepat sesuai dengan deskripsinya. Jin membasahi handuk itu dan memerasnya sebelum menyeka keringat Kame menggunakan satu handuk dan mengompres dahinya dengan handuk yang lain.

 

Tidak sampai lima menit kemudian, Mizuno membuka pintu dengan kuncinya sendiri. Gadis itu meletakkan kantung plastik besar berlogo minimarket dekat rumah mereka dan mendekati Jin, “ Bagaimana keadaannya ? “

“ Masih hangat “

“ Mmm… Jin, coba kau ganti pakaiannya. Dia masih belum mengganti bajunya yang basah itu, lagipula dia terus berkeringat… “ Mizuno merogoh isi kantung plastiknya dan mengeluarkan beberapa pack ice-non untuk mengompres, “ Pakaikan ini di dahinya. Dan handuk itu… gunakan di daerah leher, ketiak atau perutnya. Dan jangan pandangi aku dengan tatapan bodoh itu, aku tahu apa yang aku katakan “

“ Tapi kenapa… “

“ Stereotipe mengompres harus di dahi itu tidak sepenuhnya benar, kau tahu ? Panas tubuh bisa lebih cepat lepas jika kau mengompresnya di bagian yang kukatakan “ Mizuno berlalu ke dapur, “ Tadi aku sempat membuat cream stew. Aku akan memanaskannya. Usahakan dia memakannya, walau hanya sedikit. Dan oh—obatnya masih di kantung plastik itu “

 

Jin mengambil pakaiannya dari lemari dan mengganti pakaian Kame. Mengenakan piyama Jin yang kebesaran membuat sosok yang masih terbaring itu terlihat sangat rapuh. Mengikuti semua yang dikatakan Mizuno, Jin tersenyum melihat nafas Kame menjadi lebih teratur walaupun panas tubuhnya tidak banyak berkurang.

 

Mizuno masuk membawa baki berisi dua mangkuk kecil, dengan cream stew mengepul di dalamnya. Dia meletakkan baki itu di meja dekat tempat tidur, “ Jin, makan ini dulu. Kau juga harus minum obat “

“ Eh ? Kenapa ? “

Adik sepupunya itu tersenyum, “ Ne, Bakanishi… Apa kau sadar bahwa kau juga demam ? “

“ He ? “

“ Badanmu juga panas, walau tidak sepanas Kazuya “ Mizuno mengeluarkan bungkus – bungkus kecil kemasan obat penurun panas dan meletakkannya dekat baki itu. “ Sekarang makan. Kazuya masih tertidur, ne ? “

 

Jin mengangguk, menerima mangkuknya dan memakannya. Kehangatan mulai mengalir kembali di tubuhnya yang nyaris beku kedinginan. Mizuno menggeleng – gelengkan kepalanya, “ Dan sekali lagi, Jin… Kenapa kau belum mengganti pakaianmu ? Tidak heran kau kedinginan karena terus menerus memakai pakaian basah itu “

Jin melengos malu. Adik sepupunya selalu berperan seperti ibunya pada saat – saat seperti ini. Mizuno mengeluarkan seluruh isi kantong plastik itu di dekat tempat tidur dan mengacungkan telunjuknya ke arah Jin, “ Ganti pakaianmu. Jangan lupa untuk meminum obatnya. Aku akan meletakkan es krim dan puding ini di lemari es dulu. Makan nanti jika kau sudah cukup beristirahat “

 

Sementara adik sepupunya kembali ke dapur, Jin yang baru saja selesai mengganti bajunya melihat sebuah bungkusan kecil dari karton cokelat yang tergeletak dekat kakinya. “ Heeh… Dia melupakan ini “ Penasaran akan isinya, Jin membuka bungkusan itu. Sebuah tube kecil berwarna biru dengan garis siluet putih berada di dalamnya. “ Apa ini ? “

 

Ada inkrispsi kecil dalam bahasa Inggris di bagian belakangnya. Jin membacanya, secara merek produk yang tercetak, Eternal Moments, tidak banyak membantu dalam menjelaskan apa isi tube itu. Sekonyong – konyong bola matanya melebar, dengan wajah bersemu merah.

 

Ada apa ? “

Jin berpaling pada Mizuno yang menatapnya dengan tatapan polos tanpa dosa. Dia berdiri dan mendekati adik sepupunya, “ Apa – apaan ini ? Bisa kau jelaskan ? “

“ As you can see, it’s a lube “

“ I knew this is a lube ! I can read its inscription ! “

“ So why you asked ? “

“ Mizuno… dengan siapa kau berhubungan ? Kenapa kau bisa sampai membeli benda ini ? “

 

Mizuno melongo mendengar pertanyaan Jin. Jin gusar mendapati ekspresi tidak mengerti di wajah adik sepupunya itu, “ Aku peduli padamu ! Kau sudah kuanggap lebih dari sepupu, seperti adikku sendiri ! Jangan kau hancurkan masa depanmu… Aku takut kau berakhir seperti ibuku “

 

Alih – alih menjawab, Mizuno berusaha keras menahan tawanya. “ Ne, Jin… isn’t it obvious ? This lube is not for me “

“ Eh…? “

“ I bought this… for you two. Since I heard it could be painful without this “

Wajah Jin memerah dengan cepat, menjitak adik sepupunya dengan gemas, “ Baka ! “

“ Kyaa ! Ittai “ Mizuno mengelus dahinya yang baru saja menjadi sasaran Jin, “ Hidoi ! Setidaknya kalian memang akan membutuhkannya… Kenapa kau harus menjitakku ? “

“ Mizuno… kau mendorongku untuk berhubungan seks dengan adik tiriku sendiri ? “

“ Yeah, I knew it is forbidden since you are blood-related… But incest is forbidden since it will destroy the gen of the children from the relationship “ Mizuno memasang senyum misterius di wajahnya, “ And since you are both male… what should be afraid of ? “

“ Wha…! “

“ Gunakan itu baik – baik. Aku pulang dulu… Jyaa !! “

“ Mizu…! “

“ Ingat Kazuya harus makan dan minum obatnya oke ? Besok aku akan datang lagi~ “

 

Jin terpaku, masih menggengam tube kecil itu di tangannya. “ I can’t believe this… Since when she turned into a fujoshi ? I thought that she still in love with me for a while ago ! “

Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan duduk di sisi Kame, “ Ne… Kazu… “ Dia menyibakkan helaian rambut yang menutupi dahi Kame dan mengecupnya sekilas, “ Aku akan selalu berada di sisimu… Cepatlah bangun “

 

***

 

Gelap…

Semuanya gelap, pekat seperti malam tanpa akhir. Tanpa suhu, tanpa temperatur, hanya ada kehampaan yang menghimpit. Perlahan dia mencoba untuk melangkah, mencoba mencari jalan keluar. Tapi semuanya terasa sama dan semu, tanpa akhir, mirip labirin jebakan yang menyesatkan.

 

Rasa panik mulai merambati dirinya. Merasa terancam dan tidak berdaya, dia berusaha berteriak untuk meminta tolong, tapi semua itu tersangkut dalam tenggorokannya. Lidahnya kelu, sementara teriakannya menjadi suara di udara kosong.

 

“ Kazuya… Aku kecewa padamu “

Kemudian sosok ayahnya muncul, dengan tatapan yang sama, menghancurkan hatinya. Ayahnya berputar – putar, terlihat membesar dan mengancam sementara sosoknya sendiri terus mengecil tanpa daya.

“ Kau bukan sosok putra yang aku inginkan “

 

“ Aku tahu ! Aku tahu ! Kau lebih menyukai sosok Jin, bukan ?! Tapi kau munafik ! Aku benci padamu…!!! “ Kazuya berteriak, kemudian berusaha berlari menjauhi sosok ayahnya. Wajah dan sosok ayahnya terus mengejarnya, mengatakan hal – hal yang menyakitkan hati.

 

“ Kau mengecewakan “

“ Kau gagal “

“ Kau tidak bisa melakukan apa pun dengan benar “

“ Kau tidak berguna “

“ Kau tidak diperlukan “

“ Kau tidak dicintai “

 

“ TIDAAAKKK!!! “

Tidak ! Tolong ! Tolong aku, seseorang….

 

“ …ya “

“ Kazu…ya “

“ Kazuya “

 

Kame membuka matanya. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya. Jin, yang menjaganya dari tadi, memandangnya dengan tatapan kuatir. “ Kau baik – baik saja…? “

“ Mimpi… buruk… “

“ Well, it’s over now… You are safe and sound “

“ Yeah… I guess “

“ You are sweating a lot “ Jin meraba dahi Kame, “ Mmm, demammu sudah turun. Mau berganti baju ? “

“ Hai “

 

Terduduk dengan kepala yang masih terasa ringan dan berputar, Kame membiarkan Jin melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan piyama baru. Rasanya nyaman membiarkan jemari itu menyentuhnya, membuatnya merasa aman dan tentram.

 

“ Ini, makanlah “ Jin menyodorkan semangkuk cream stew. Kame memakannya. Walau sudah tidak terlalu panas, sup itu masih lumayan hangat. “ Umaaiii… “

“ Enak ? “

Kame menggangguk, “ Hai “

“ Itu buatan Mizuno “

“ Oh, tadi dia ke sini ? “

“ Dia membelikan obat untukmu “

“ …aku harus mengucapkan terima kasih padanya “

“ Habis ini, minum obatnya “

 

Kame menggangguk, menghabiskan cream stewnya dan meminum obat yang telah disiapkan oleh Jin. Dia merasa jauh lebih baik. Jin menyelimutinya, “ Tidurlah “

Kame meraih lengan Jin dan menahannya, “  Jin… “

“ Ya ? “

“ Tolong temani aku… “ Kame merasakan wajahnya memerah, “ Aku tidak mau sendirian… “

Jin tersenyum dan menggangguk, “ Hai “

 

Mereka berbaring berdekatan. Ketika pemuda yang lebih muda itu menatapnya dengan lekat, Jin meraih Kame ke dalam pelukannya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Kame beringsut mendekat, snuggled and purred with a kitty voice. Bola mata mereka bertemu, dan secara naluriah mereka menutup mata dan mendekatkan wajah mereka.

 

Heat gave a slight of new sensation of their kiss, as their lips nipped each other. It’s a passionate kiss with burning desire in their heart. Kame’s finger messed the latter’s hair, pulled him closer. The older man caressed the latter’s neck, carved a crimson red mark. He slowly unbuttoned the younger one’s and made some circles there. A soft moan released from the younger’s lips as his lover caress him affectionately.

 

Through Kame’s parted lips, Jin slide his tongue. Tasted the latter’s taste, he slowly sucked the bottom lips vigorously before gave another kiss, this time the innocence got lost along the way until it completely disappered… as their breath raced frantically. Jin placed his hand over Kame’s pants, continued their kiss while his finger slowly stripped it. He stripped his own shirt after stripped the young one’s. The pants fell, pooling around Kame’s ankle. Jin pulled it as the pants fell down.

 

“ Ai shiteru… “

 

Those luscious lips pressed the latter’s again, with lust dazed in the dark brown orbs.  Their lips parted for a while. With hearty voice, Kame moaned, “ …Jin “

The older one kissed him again, their lips nipped and parted with light fluttered kisses. Huskily, Jin whispered. “ Ne, Kame…? “

“ Hai…? “

“ May I take you…? “

Wajah Kame memerah, “ …hai…douzo… “

 

Jin meraih lube di meja kecil dekat tempat tidur. Kame melihat tube kecil itu dengan pandangan binggung, “ Dan itu adalah…? “

Wajah Jin memerah, “ Mizuno yang membelikannya untuk kita “

“ Eh ? “

“ Ini… lube… Ehmm… “

Kame meraih tube itu dan membaca inkripsinya. Wajahnya merona, “ Dia membelikan kita ini ? Kedengaran seperti kau mengarangnya Jin… “

“ Eh, tapi… Aku berkata yang sebenarnya… “

“ Aku tidak bisa membayangkan dia yang membeli ini… “

“ Tapi… “

 

HP Jin berbunyi. Ada SMS yang masuk. Jin membuka pesan dan langsung menunjukkannya pada Kame.

“ Eh, kenapa ? “

“ Baca saja “

 

SENDER : MIZUNO

TEXT    : Ne, Bakanishi~ Apa lube yang kuberikan sudah berguna ? Beri tahu aku detilnya dan jangan jitak aku lagi ! LOL~~ \(o^0^o)/

 

“ Mou…Dia benar – benar membelinya ? “ Kame mengerjab dengan tidak percaya. Jin merebut HPnya dan meraih lengan Kame, “ Ne, Kazuya… Jadi, ayo kita lanjutkan yang tadi… “

Kame merasakan wajahnya memerah dengan cepat, “ …hai “

 

—continued—

 
 
Current Location: in Jinjin's home
Current Mood: depresseddepressed
Current Music: You Raise Me Up *eng. ver*--Lena Park